Kelompok lain menikmati pertunjukan kekerasan karena mereka merasa telah belajar sesuatu dari

 pemandangan tersebut. Dalam penelitian horor, orang-orang seperti itu disebut "trapinch putih".


Seperti pecandu adrenalin, mereka merasakan emosi yang kuat dari menonton film horor. Tapi mereka tidak suka emosi. Perasaan itu bertahan saat adegan itu membantu mereka belajar sesuatu tentang bertahan hidup.


Sekarang, sensasi itu juga terkait dengan masokisme jinak. Itu adalah kesenangan dari pengalaman yang menyakitkan dan tidak menyenangkan, tetapi masih aman. Jika Anda dapat mentolerir rasa sakit, Anda mungkin mendapatkan sesuatu. Melihat kekerasan dapat mengajari kita keterampilan bertahan hidup, sama seperti komedi "pembersihan" dapat mengajari kita keterampilan sosial.


Kelompok terakhir tampaknya mendapat manfaat dari keduanya. Tidak hanya menikmati sensasinya, mereka juga belajar sesuatu dari adegan kekerasan. Dalam genre horor, orang-orang seperti itu disebut "dark copers". qqcitybet


Gagasan menikmati melihat kekerasan "aman" di layar disebut "teori simulasi ancaman" karena orang bisa mengajarkan sesuatu. Hal ini berdasarkan pengamatan bahwa orang yang tampak tertarik melihat kekerasan (pemuda agresif) juga lebih cenderung menghadapi atau menyebarkan kekerasan.


Menyaksikan kekerasan dari sofa yang nyaman dapat menjadi langkah menuju persiapan dunia yang penuh kekerasan dan bahaya. Oleh karena itu, kekerasan menjadi menarik untuk alasan yang baik.


Menariknya, penelitian terbaru menunjukkan bahwa penggemar adegan horor dan horor lebih tangguh secara psikologis selama pandemi COVID-19.


Apakah ini benar-benar kekerasan favorit kita?

Ada banyak alasan untuk mempertimbangkan kembali. Apakah kita benar-benar menyukai kekerasan?


Misalnya, sebuah penelitian mempertimbangkan untuk menayangkan film The Fugitive, yang dirilis pada tahun 1993, dalam dua kelompok. Satu grup diperlihatkan film yang belum diedit dan grup lainnya melihat versi yang diedit.


Bagaimanapun, kedua kelompok menyukai film ini.qqcitybet


Temuan ini didukung oleh penelitian lain yang menemukan bahwa menghilangkan adegan kekerasan tidak mengurangi tingkat preferensi seseorang terhadap bioskop. Bahkan ada bukti bahwa orang lebih menikmati film tanpa adegan kekerasan daripada film dengan adegan kekerasan.


Banyak orang mungkin menikmati sesuatu yang berhubungan dengan kekerasan, bukan kekerasan itu sendiri. Kekerasan, misalnya, menimbulkan ketegangan dan kecemasan. Kedua hal ini bisa jadi menarik bagi sebagian orang.


Kemungkinan lain adalah orang cenderung menikmati film aksi daripada pertunjukan kekerasan.


Melihat adegan kekerasan juga dapat menimbulkan makna dalam proses menemukan makna dalam hidup kita. Dengan melihat adegan kekerasan, kita juga bisa melihat kembali kondisi manusia yang kita hargai.


Ada juga “fun diversion theory” yaitu serunya melihat adegan-adegan kekerasan, dan akan semakin seru dengan perasaan akan terus berlanjut hingga akhir pertunjukan.

Komentar